?

Log in

No account? Create an account

Saat kamu hampir menjadi seorang ibu

Tak terasa sudah setahun berlalu sejak gua menikah. Dan sekarang, gua bersama suami sedang menunggu hadirnya seorang anak. Suami senang bukan kepalang karena dari dulu dia memang tipe laki-laki yang senang anak-anak. Sedangkan gua...jujur, biasa saja.

Gua memang bukan tipe wanita yang suka anak-anak. Banyak hal yang melatarbelakangi ketidaksukaan itu, tapi salah satunya karena gua terlalu sering melihat anak-anak yang bandel, suka bertindak seenaknya terhadap orang lain dan tidak tahu bagaimana bersikap di tempat umum, sedangkan orangtua mereka malah membiarkan saja kebandelan mereka merajalela.

Namun, gua sangat bersyukur kepada Tuhan karena sudah mempersiapkan gua sedemikian rupa untuk menghadapi kehamilan ini. Sebenarnya ini adalah kehamilan kedua gua sejak menikah. Kehamilan pertama gagal karena janin yang tidak berkembang. Menurut dokter, hal ini lazim terjadi pada 40% wanita yang pertama kali mengandung. Saat itu pun, gua menyikapi dengan biasa-biasa saja. Sedikit sedih awalnya, namun dengan cepat bisa melupakan. Sungguh tak disangka, kehamilan yang gagal itu ternyata berdampak baik untuk kondisi psikologi gua. Entah mengapa, gua menjadi agak senang dengan anak-anak, terutama bayi-bayi. Malah gua bisa melihat sisi imut mereka. Aneh memang. Gua juga terkadang melihat ibu yang mendisplinkan anaknya saat berjalan-jalan. Sehingga saat akhirnya gua hamil lagi, dan dokter menyatakan kondisi kandungan kali ini sehat, gua merasa sudah agak siap untuk mempunyai anak.

Trimester awal kehamilan, seperti juga ibu-ibu hamil lainnya, gua selalu merasa mual dan susah sekali makan. Belum ditambah tumpahnya isi perut beberapa kali, sehingga setiap bulan berat badan gua malah turun sebanyak satu kilogram. Gua juga sempat merasa kesal dengan kehadiran si bayi yang menyebabkan gua tidak bisa makan ini, sehingga rasanya ingin dia cepat-cepat keluar saja. Di saat-saat ini, suami selalu memberikan dukungan, mengusap-usap perut gua dan menganjurkan gua untuk menjalin komunikasi dengan si jabang bayi agar dia sedikit mengurangi ulahnya di dalam perut. Meskipun sebenarnya, ini sepenuhnya terjadi karena perubahan hormon, bukan karena ulah calon bayi. Namun ajaib, saat gua benar-benar menjalin komunikasi dengan calon anak gua, mual-mual bisa berkurang sedikit. Untuk calon-calon ayah di luar sana, dukungan dan pengertian Anda sangat diperlukan istri di saat-saat ini. Terutama saat mood swing menyerang. Gua juga sempat melihat berita tentang bayi yang lahir pada usia belasan minggu namun secara ajaib bisa selamat dan tumbuh menjadi bayi yang sehat. Bayi berusia belasan minggu itu begitu kecil, bahkan ukurannya tidak sampai satu kepalan tangan orang dewasa, sehingga gua merasa menjadi ibu yang jahat karena sempat terpikir untuk "mengusir" si jabang bayi keluar dari tubuh gua.

Trimester kedua kehamilan, mual-mual sudah mulai berkurang sampai akhirnya hilang sama sekali, bahkan memasuki bulan kelima, gua sudah sangat rakus. Berat badan gua pun mulai bertambah satu kilogram setiap bulannya. Dokter mengatakan, bayi gua berukuran besar, penyerapan nutrisinya pun baik, namun entah mengapa kehamilan gua terlihat kecil, kalau mau dibilang hampir tidak kelihatan. Gua juga semakin sering membaca buku tentang kehamilan, mengkonsumsi makanan yang sesuai dengan tahap perkembangan janin, dan tentunya, mulai sayang pada si jabang bayi. Calon bayi gua tergolong baik, dia tidak banyak berulah sewaktu di dalam perut. Bahkan dokter pun berkata bayi gua tidak pernah merepotkan ibunya. Entah darimana dia tahu, pokoknya dia tahu begitu meneropong kondisi si bayi dengan USG. Suami mulai sering mengajak si bayi berkomunikasi dan semakin sering mengelus-elus perut gua yang mulai membesar.

Memasuki trimester ketiga kehamilan, suami menjadi makin protektif. Dia juga makin sering mengelus-elus dan mencium perut gua, bahkan membacakan buku untuk si jabang bayi. Saat ini, perut gua sudah menyerupai bola dan hanya orang buta yang tidak bisa melihat bahwa gua sedang hamil. Kenaikan berat badan pun bertambah menjadi dua kilogram. Si jabang bayi pun tampaknya sudah bisa menyadari kehadiran calon ayahnya, dia selalu bergerak-gerak responsif saat suami gua membelai-belai dan mencium perut ibunya. Si jabang bayi juga hanya bergerak saat gua sedang tidak sibuk. Sahabat gua berkata, karakter bayi bisa terlihat dari sejak dalam kandungan. Bayi yang tidak merepotkan dalam kandungan, cenderung tidak merepotkan pula saat lahir. Hasil pemantauan dokter mengatakan bayi gua sangat aktif. Tidak heran mengingat ayahnya yang mengajar kungfu dan ibunya yang suka bepergian.

Selama kehamilan ini, bukan hanya suami yang bersikap penuh pengertian, orangtua gua, terutama mama, sangat suportif dalam kehamilan gua. Ditambah teman dan ipar yang sebenarnya juga tidak suka anak, namun hamil di awal pernikahan mereka. Gua melihat bagaimana mereka bertransformasi dari seorang wanita muda berkarakter kuat dan tidak menyukai anak-anak menjadi seorang ibu yang penuh kasih dan kelembutan. Orang bilang, hidup seorang perempuan belum lengkap tanpa hadirnya anak. Di satu sisi, gua merasa hal itu benar. Karena seorang anak, bahkan saat dia belum lahir ke dunia saja, mampu mentransformasi seorang perempuan. Wanita yang lemah, cenderung menjadi lebih kuat saat mempunyai anak, karena dia sadar sepenuhnya bahwa hidupnya bukanlah miliknya sendiri, ada seorang anak yang harus diperjuangkan. Sedangkan wanita yang berkarakter keras dan kuat, cenderung menjadi lebih lembut dengan kehadiran anak. Mungkin inilah yang dimaksud bahwa seorang wanita belumlah lengkap tanpa anak. Karena tanpa hadirnya seorang anak, transformasi karakter ini tidak akan terjadi. Seorang laki-laki pun, meski tidak mengandung anak, juga akan mengalami transformasi karakter seiring dengan kesadaran akan perubahan peran dalam hidupnya, dari seorang suami saja menjadi seorang suami dan ayah.

Sebagai penutup, gua ingin memberitahu pada para wanita di luar sana yang tidak menyukai anak-anak dan kerap mendapat pandangan maupun respon aneh dari masyarakat, misalnya: "Kamu ga suka anak? Kenapa?? Kamu kan perempuan?" atau "Hah?! Ga mau punya anak?? Jangan gitu ah!" Nasihat gua, ABAIKAN saja orang-orang yang suka ikut campur itu dan percayalah, sifat keibuan akan datang tepat pada waktunya. Tidak perlu dipaksakan, tidak perlu juga mempedulikan pemikiran sempit dari orang-orang seperti itu. Karena gua sudah melihat sendiri, bagaimana wanita yang sama sekali tidak suka anak, pada saatnya bisa berubah dan bisa mendidik anaknya dengan baik pula (mungkin karena sudah muak melihat anak-anak yang nakal di luar sana, sehingga menyebabkan dirinya sendiri akhirnya tidak menyukai anak). Akhir kata, jadilah dirimu sendiri dan bila saatnya kamu menjadi ibu nanti, nikmatilah proses itu karena anak tidak akan selamanya ada bersama kita. Pada akhirnya mereka akan menjadi dewasa dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Di saat itu, kamu tidak akan bisa lagi mengikuti setiap langkah mereka, seperti yang kamu lakukan saat mereka kecil.

Love is in the SPA!

Singing:
There's a calm surrender to the rush of day
When the heat of the rolling world can be turned away
An enchanted moment, and it sees me through
It's enough for this restless warrior just to be with you
                           Reff: And can you feel the love tonight
                                     It is where we are
                                     It's enough for this wide-eyed wanderer
                                     That we got this far
                                     And can you feel the love tonight 
                                     How it's laid to rest
                                     It's enough to make kings and vagabonds
                                     Believe the very best


Penggalan lirik soundtrack The Lion King karangan Elton John ini dengan sempurna menggambarkan suasana hati gua kemarin malam. Tunggu, sebelum gua masuk pada bagian itu, gua harus terlebih dahulu berbagi sukacita yang gua alami dalam seminggu ini. 

Awal bulan ini, gua awali dengan kembali menjadi pengangguran. Dan berbeda dengan sebelumnya, kali ini gua memasuki fase menganggur dengan hati penuh sukacita. Karena akhirnya gua terbebas dari bos dan pekerjaan kantor yang makin hari makin terasa bagai mimpi buruk. Juga terlepas dari himpitan tuntutan untuk selalu tampil sempurna, baik dalam penampilan maupun perkataan di kantor. Bebas dari segala kemunafikan! Bebas dari gosip! Horeeeee!!

Bagaimanapun, gua harus mensyukuri pengalaman gua bekerja di kantor televisi swasta terkenal itu, karena di sanalah gua menyadari dunia seperti apa yang benar-benar gua inginkan. Di sanalah gua belajar untuk menggali potensi terpendam gua selama ini. Belajar mengerjakan apa yang tidak gua sukai sebelumnya, dan menemukan bahwa gua cukup mahir mengerjakannya. Orang bilang, setiap hal dalam hidup ini bagaikan koin bermata dua, dalam setiap peristiwa buruk pasti ada hal yang baik di baliknya, demikian juga sebaliknya. Hidup gua di dunia pertelevisian pun demikian. Dan gua harap, apa yang sudah gua pelajari di sana, sedikit banyak bisa menjadi modal untuk melompat ke dunia yang tepat bagi gua.

Jadi, seminggu ini gua isi dengan penuh kemalasan dan berbagai kegiatan yang terselip di antaranya, puncaknya adalah kemarin malam. Gua menggunakan voucher spa hadiah ulang tahun sahabat untuk bersantai bersama suami. Sayangnya, voucher itu hanya berlaku untuk satu orang, sehingga suami terpaksa harus merogoh koceknya sendiri dalam rangka menemani gua. Jadi, malam itu, setelah suami pulang kantor, kami berdua pun melesat menuju Five Senses, tempat spa mewah yang berlokasi di daerah Greenville.

Sebelum memulai rangkaian perawatan spa, kami disodori serentetan pertanyaan yang harus diisi dalam formulir di meja pendaftaran. Antara lain, apakah kami mengalami masalah kulit, pernahkah kami dioperasi, apakah kami memakai lensa kontak, produk perawatan apa yang kami pakai untuk muka/wajah, apakah kami menggunakan alat bantu jantung, dan sebagainya. Selama mengisi formulir dua halaman bolak-balik itu, gua berpikir "wah, spa profesional nih!". Karena sebelumnya gua juga pernah spa, namun prosedurnya tidak serumit ini.

Akhirnya kami selesai mengisi formulir dan segera naik ke lantai dua, tempat ruang-ruang spa berada. Kamar spa kami terbilang bagus, dengan bak mandi putih mengkilat, suasana remang-remang yang nyaman, dua tempat pijat bersebelahan, sebuah kamar mandi, sebuah ruangan toilet terpisah, dan tempat cuci tangan. Kami dipersilahkan berganti baju dan diberi kunci loker, yang tergantung pada sebuah karet rambut.

Hari itu kami mencoba paket My Favourite Spa, yang di dalamnya mencakup pijat, scrub, sauna/steam, rendaman. Setelah sekujur tubuh kami dipijat dan digosok dengan garam scrub, kami diantar menuju ruang steam. Kami memilih steam alih-alih sauna dengan pertimbangan agar tidak terlalu panas. 10 menit dalam ruangan steam sangat menyenangkan. Tentunya jika dilakukan dengan teman sesama jenis, mungkin akan terasa risih, karena pengunjung harus membuka kimono sebelum memasuki ruang steam. Tapi bila dilakukan bersama suami/istri, hmm...akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan. Setelah selesai berpanas-panas ria, kami kembali diantar ke ruangan untuk mandi. Bak mandi yang sebelumnya kosong, sudah dipenuhi dengan air sabun. Dan spa terapis kami menerangkan cara mengisi busa ke dalam bak mandi. Mudah saja, tinggal menekan satu tombol dan seluruh bak pun penuh dengan busa. Terapis juga sudah menyiapkan jahe hangat dan kue jahe di tempat pijat untuk kami. Bukan itu saja, dua botol lotion sudah menanti di tempat pijat kami masing-masing. 

15 menit yang menyenangkan dalam bak mandi terpaksa harus kami akhiri karena keterbatasan waktu. Gua dengan senang hati melumuri sekujur tubuh gua dengan lotion beraroma jeruk yang mengandung vitamin E dan shea butter. Suami mendapat lotion Gatsby dengan aroma maskulin. Kue jahe dan minuman jahe manis yang menutup sesi spa membuat tubuh terasa hangat dan nyaman.

Rangkaian perawatan ini, ditambah terapis yang ramah dan penuh pengertian, membuat malam kami menjadi berkesan. Kenapa gua bilang penuh pengertian? Karena bahkan beberapa saat sebelum kami pergi ke ruangan steam, terapis sudah terlebih dahulu menaikkan suhu pendingin ruangan, sehingga setelah selesai berendam, kami sama sekali tidak merasa kedinginan. Juga dalam pemberian lotion, terapis memberikan lotion laki-laki untuk suami, dan tidak menyamaratakan saja semua lotion untuk tamu. Perhatian kecil seperti ini, mungkin kerap luput dari pengamatan pengunjung, namun bagi gua, ini adalah suatu bentuk kepedulian terhadap tamu yang mampu memberikan rasa nyaman. Pelanggan adalah raja, bukan?

Spa di Five Senses menjadi penutup minggu yang sempurna dan juga menghantarkan gua memasuki akhir minggu dengan hati yang riang. Untuk harga, memang terbilang agak mahal, namun menurut gua setimpal dengan pelayanan yang diberikan.


Saat seorang bos bukanlah seorang pemimpin

Mungkin banyak yang bertanya-tanya melihat judul tulisan ini. Sebenarnya apa sih bedanya bos dengan pemimpin? Bukankah seorang bos akan otomatis menjadi pemimpin, karena tugasnya adalah memimpin bawahannya? Ohohoho...tidak demikian sodara-sodara. A boss and a leader are way too different. Seorang bos hanya punya kemampuan menyuruh bawahannya ini dan itu, dengan tujuan memanfaatkan bawahannya untuk kepentingan sendiri, agar dirinya mendapat pujian karena telah menjalankan tugas kantor dengan baik, atau agar perusahaannya maju meskipun diiringi sumpah serapah para karyawannya. Sementara seorang leader atau pemimpin, adalah orang yang mampu memimpin anak buahnya dengan baik, memperhatikan keadaan mereka, dan menjadi teladan bagi mereka yang dipimpinnya. Sayangnya, hanya sedikit bos di dunia ini yang menyadari pentingnya menjadi seorang pemimpin, mereka hanya ingin duduk di tampuk kepemimpinan yang dibangun dari kerja keras anak buahnya tanpa sedikitpun menoleh ke bawah guna mendalami derita anak buahnya, termasuk bos gua.

Bos gua ini adalah produser suatu program TV swasta terkenal. Gua menjulukinya bos, karena ia yang bertanggung jawab memberi kami semua penugasan. Ia adalah seorang wanita muda lajang dengan kemampuan yang cukup hebat di bidangnya, namun dengan toleransi minim dan perasaan yang lebih minim lagi. Seringkali ia memberi tugas mendadak seusai jam kerja dan mengharuskan pekerjaan itu selesai keesokan harinya. Gua sendiri pernah tidak tidur seharian demi mengerjakan tugas dadakannya. Dan seperti biasa, sang bos menyalahkan gua karena tidak bisa mengatur waktu dengan baik. Bukan itu saja, teman satu tim gua, juga pernah masuk kantor pukul lima subuh sampai terpaksa menginap di kos temannya dekat kantor demi menyelesaikan tugas dadakan ini. Dan tentu saja, bos tidak pernah mau tahu kesulitan yang kami semua alami dikarenakan perintah dadakannya.

Bahkan saat ada anggota tim kami yang sakit kuning karena kecapekan sehingga terpaksa berisitrahat di rumah selama sebulan (kejadiannya sudah lama sebelum gua bergabung dengan perusahaan ini), bos kami nan "baik" malah mencurigainya. Pun ketika gua yang harus beristirahat di rumah selama dua hari akibat terkena post-hepatitis, dikarenakan kelelahan yang di luar batas, bos gua masih saja menaruh curiga. Astaga...!

Pernah pula suatu hari, saat gua mendapat jadwal kerja sore, bos sengaja mengadakan rapat pada sore hari, sehingga pekerjaan gua menjadi tertunda dan akibatnya gua harus pulang dini hari. Dan dengan teganya bos menitahkan agar gua masuk pagi keesokan harinya. Saat gua meminta izin untuk masuk agak siang, bos hanya memberi toleransi setengah jam dari waktu yang ditetapkannya, dengan perkataan: "Ga boleh lebih dari jam segini ya." Padahal hari itu gua baru bisa pulang ke rumah jam empat subuh. Dan besoknya paling telat pukul setengah sepuluh pagi sudah harus menjejakkan kaki di kantor.

Teman satu tim gua juga mempunyai kisah yang tak kalah seru. Saat hendak pergi meliput berita, mobilnya menabrak seorang wanita. Kontan saja teman gua langsung membawa wanita ini ke rumah sakit, dan menyanggupkan diri untuk menenangkannya di tengah deraan panik yang menghujam. Setelah wanita ini sampai di rumah sakit, teman gua menelepon dan memberitahu bos. Ia juga bertanya, haruskah ia tetap pergi meliput, karena itu berarti ia harus meninggalkan korban di rumah sakit. Saat itu, korban belum mendapat pertolongan dokter. Dan bos gua dengan dinginnya menyuruh teman gua ini tetap pergi meliput dan meninggalkan korban di rumah sakit. Ia berkata, supir yang menyetir mobil itu yang akan bertanggung jawab dan ia akan mengirim supir lain dari kantor untuk teman gua. Bos sama sekali tidak peduli bagaimana perasaan teman gua yang shock setelah mobilnya menabrak orang dan juga tidak peduli bagaimana kondisi orang yang ditabrak ini. Yang dipedulikannya hanyalah bagaimana liputan bisa telaksana, dan hasilnya bisa ditayangkan dalam program yang dikepalainya. Gua sungguh tidak habis pikir, sebagai seorang wanita, mengapa hatinya bisa begitu dingin?

Dan itu masih belum ditambah kebiasaannya yang selalu menyuruh kami ini dan itu, bahkan melakukan hal yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Tentunya sebagai bos yang harus "berpura-pura" baik, segala titahnya selalu diawali dengan kata "tolong". Namun kami semua tahu, kata-kata "tolong" itu hanya basa-basi belaka, karena setiap perkataannya harus dituruti, layaknya seorang raja.

Beberapa hari yang lalu, gua mendapat giliran dinas ke luar kota. Dan setelahnya gua sudah mendapat izin dari atasan (senior produser, yang posisinya lebih tinggi daripada bos gua ini) untuk libur dua hari. Dan tahukah kalian? Di hari pertama gua libur, bos gua sudah memberi tugas untuk dilakukan saat gua masuk nanti. Alamakjaaanggg! Keluhan yang sama datang dari teman satu tim gua. Teman gua ini sedang pergi mudik, dan di hari pertamanya, dia juga sudah mendapat penugasan. Di tahap ini gua sudah mulai bertanya-tanya, apakah bos gua ini benar-benar tidak punya perasaan? Tidak mengenal hari libur? Atau tidak memiliki kemampuan menikmati hidup? 

Jika kalian bertanya mengapa gua tidak keluar saja, itu karena gua saat ini terikat kontrak dengan penalti yang cukup besar bila gua keluar sebelum waktunya. Sehingga yang bisa gua lakukan hanyalah menunggu kontrak gua habis. *sigh*


War House

After many films passed and left unreviewed because of my extraordinary busy life of work, I have successfully managed to force myself writing War House. It is a film by Stephen Spielberg that, like many others of Stephen Spielberg's movie, made with good quality of story that touched my heart so deeply.

War House is a story about a horse (of course) that "found" by a boy in a sweet coincidence. Albert Narracott, an England boy, who in his childhood happened to watch the birth of a thoroughbed foal. Little Albert stunned by this process and after many years passed, visited them again, to saw that foal has turned into a beautiful young horse. They once saw each other in the eye, and Albert was trying to feed him, when the colt, out of a sudden turned his back and running towards his mother. Year passed by and young Albert always watching this dashing young horse galloping through the fields at his mother's side.

The teenage boy and the colt met again, when Albert's father buy this horse in an auction. And since then, the bonds between two of them, started to become unbreakable. Albert named the horse Joey, and devoted much time to training him. It was uneasy, because they had to face the threat of the landlord, who wanted to take possession of the farm and the horse if Albert's father failed to plow his field and paid the rent in Autumn. Albert hardly train Joey to plow their rock-filled field with turnips to help his father fulfill his promise to the landlord. They finally made it and Albert can happily keep Joey by his side.

Things should be going smoothly when in an unfortunate day, a heavy rain destroyed their crop and Albert's father decided to sell Joey to military, to become a war horse. England was, at that time, at war with Germany, in what we called World War I. This heartbroken moment when Albert had to let Joey go, reminds me when I had to let go of my dog, which I and my friends took care of since she was a puppy. We had raised our golden retriever ever since she was just a baby and watched her growing up, mad at her, laughed at her, admired her, worried about her, slept with her, and it was undescribably sad when we had to watch her walked out of the door, following her new master. I believe, that is what Albert felt when he had to watch Joey leave. 

Joey changed master for times at war, met a best friend of his own kind, gone across country, lost his best friend, until he was back at the military of England and met Albert once more. This young boy had eventually join military to find his precious horse. The moment when they finally meet each other left me cry tearlessly. How I wish to meet my dog one more time, to hug her once more, and tell her that my love for her had never been lesser than the first day I brought her into my house. 

This was undoubtedly another great film by Stephen Spielberg, which shows us how love can shape our vision, gives us hope and strength to carry on, despite of how hard our life can be. And true, it is love, that make me stand still on this rough path of life, looking forward to a brighter future.      



Ulang tahun seorang sahabat

Sudah lama gua tidak mengisi blog ini, dikarenakan kesibukan kantor yang bertubi-tubi sehingga gua selalu pulang dalam keadaan capek jasmani dan rohani. Dalam blog gua yang terakhir (berbahasa Mandarin) gua sudah menulis bagaimana sibuknya gua menghadapi pekerjaan baru. Yup! Gua akhirnya mendapatkan pekerjaan yang selama ini selalu gua impi-impikan sebagai seorang jurnalis. Namun...tidak dinyana, pekerjaan ini pada awalnya sungguh bagaikan mimpi buruk buat gua. Kesibukannya, tuntutan pekerjaannya, hubungan antar manusianya, semuanya sangat jauh dari bayangan gua selama ini.

Dan saat impianmu berubah menjadi mimpi buruk, apa yang kau perbuat?

Yaaahh.....

Jalani saja.

Sesederhana itu.

Lama kelamaan, gua pun terbiasa dengan perbenturan budaya dan etos kerja dari tempat lama ke tempat baru. Dan...tentunya ada juga hal-hal menyenangkan yang terjadi dalam proses adaptasi ini. Teman baru, pengalaman baru, semuanya menambah guratan warna di atas kertas kehidupan gua.

Yang terutama, gua semakin menghargai pentingnya orang-orang terdekat gua. Pacar, sahabat, orang-orang yang mau menerima gua apa adanya, bagaimanapun gua, dengan segala kelebihan dan kelemahan gua. Di penghujung hari, saat gua merasa begitu letih dengan dunia ini, gua punya orang-orang ini untuk berbagi dan sekadar menghangatkan jiwa yang lesu. Gua disadarkan, mengenai apa yang benar-benar penting di dunia ini.

Tentunya, gua merasa sangat beruntung mendapatkan kesempatan bekerja di tempat gua yang sekarang. Namun gua merasa jauuuuhhh lebih beruntung mempunyai seorang kekasih dan sahabat-sahabat yang mengelilingi gua dengan cinta kasih mereka setiap saat. Saat suasana hati gua melorot ke titik nadir, mereka sanggup menghadirkan setitik cahaya dan kehangatan dalam hati gua yang hampir gersang.

Mengapa gua tiba-tiba menjadi sentimental begini? Karena hari ini adalah hari ulang tahun sahabat gua. Kami sudah bersahabat lebih dari satu dekade, dan gua tidak pernah merasa seberuntung ini mempunyai seorang sahabat seperti dia dalam hidup gua. Seiring dengan bertambahnya usia kami, dan juga kerutan di wajah kami, semakin kokoh pula jalinan persahabatan kami. Mengingat itu, gua juga merasa bersyukur atas kehadiran seorang kekasih yang selalu menjadi panutan gua, teman diskusi, kakak, sekaligus orangtua gua. Tidak heran dia lelah, karena merangkap terlalu banyak peran dalam hidup gua. Hehehe....

Akhir kata, gua ingin mempersembahkan tulisan ini untuk pacar dan sahabat-sahabat gua yang terkasih, karena tanpa kehadiran mereka, gua tidak akan mungkin bisa terus tertawa bahagia di tengah segala kegetiran hidup ini. Terima kasih ya! Love you soooooooooo mu(a)ccchhhh!!!



Merry Christmas and Happy New Year!

Tak terasa, kita kembali memasuki Natal dan Tahun Baru di penghujung 2011. Dan saat gua menulis blog ini, awal 2012 yang digembar-gemborkan sebagai tahun terakhir bumi beroperasi, alias kiamat, sudah dimulai. Tidak, tidak, tentunya gua tidak percaya ada orang, baik dari suku manapun, yang dapat meramalkan apalagi memprediksi dengan tepat kapan terjadinya kiamat. Bukankah tahun 2000 juga diramalkan sebagai hari kiamat? Nyatanya, saat ini gua dan seluruh penghuni bumi masih bercokol dengan nyaman di planet kita yang sudah semakin rusak ini. Nah, ada baiknya tidak terlalu cepat mempercayai ramalan, bukan?

Natal dan Tahun Baru kali ini, gua melewatkannya dengan memikirkan urusan kantor, karena, tentu saja, gua tidak mendapat libur sama sekali berhubung masih terhitung anak baru di kantor, sehingga tidak berhak mengambil cuti. Bahkan hingga tanggal 30 Desember kemarin, gua benar-benar lupa bahwa keesokan harinya tahun sudah akan berganti. Gua baru menyadarinya ketika banyak orang yang menanyakan apa rencana gua untuk melewatkan akhir tahun. Hmm...rencana? Tentu saja gua tidak punya rencana. Siapa yang masih ingat membuat rencana tahun baru kalau sehari-hari disibukkan dengan bermacam pekerjaan? Namun, akhirnya toh gua melewatkan juga tahun baru kemarin dengan kegiatan yang dulu sering sekali gua impikan, nonton midnight. Dan maksud gua midnight di sini, benar-benar tengah malam. Dalam rangka memanjakan pengunjung di akhir tahun, bioskop 21 Cineplex memutar film pada pukul 23.30. Dan sudah bisa ditebak, banyaaakkk sekali peminatnya, termasuk gua dan pacar tercinta, hohoho......

Gua juga menyempatkan ke salon untuk memendekkan dan membentuk rambut. Dan kalau kalian mau tahu, menyambut tahun baru dengan rambut baru, memang memberikan sensasi yang menyenangkan, meskipun gua tidak akan mau lagi melakukannya kalau tidak terpaksa. Harga layanan potong rambut melambung tinggi di akhir tahun. Membuat gua terbelalak kaget saat membayar. Astaga...!!

Nah, mengenai Natal kemarin, hmm...apa yang harus gua ceritakan? Gua pergi ke gereja di malam Natal, melewatkan siang Natal keesokan harinya dengan nonton (juga) maraton bersama sahabat dan pacar, lalu keesokan harinya lagi, gua sudah harus berangkat ke kantor. Meski demikian, Natal kali ini tidak bisa dibilang tidak berkesan. Gua merasa di Natal pertama gua yang harus gua lewatkan tanpa libur ini, makna Natal justru semakin meresap ke dalam hati. Oh ya, sebagai tambahan, bukan hanya gua harus melewatkan Natal kali ini tanpa libur, namun gua juga harus puas merayakan Natal hanya dengan sang pacar karena orangtua gua sudah terbang menuju Australia beberapa hari sebelumnya untuk menjemput adik gua yang sudah lulus kuliah. Sepertinya hambar sekali Natal gua kali ini ya? Namun anehnya, gua justru tidak merasa sedih. Tentunya gua merasa kesepian melewatkan Natal tanpa keluarga, bagaimanapun, Natal adalah hari kumpul-kumpul keluarga waijb bagi gua. Namun, bukankah esensi Natal adalah menyambut kelahiran Yesus Kristus? Bukan acara makan-makan, pesta, tukar kado, dan sebagainya. Semuanya hanyalah pelengkap. Bagaimana kita  menyambut kelahiran Yesus di hati kitalah yang paling penting, bukankah begitu? Maka, Natal kemarin gua jalani dengan pemikiran: meskipun tanpa keluarga, kehadiran Tuhan Yesus sudah cukup untuk gua. Apalagi karena Yesus sudah rela turun ke dunia demi menyelamatkan kita umatNya, dan lahir dalam kesederhanaan yang menyedihkan. Apakah gua harus berkeluh-kesah padahal sudah banyak sekali berkat yang gua terima di tahun 2011 kemarin dari Tuhan?

Sebagai penutup kisah ini, biarlah dengan segala kerendahan dan ketulusan hati gua mengatakan: Selamat Hari Natal bagi kalian yang merayakan dan Selamat Tahun Baru!!


Tags:

e-KTP...oohh...e-KTP

Laporan reporter lapangan:

Ya pemirsa, meskipun pemerintah sudah mewajibkan seluruh penduduk Indonesia agar mempunyai e-KTP,namun hingga kini banyak warga yang tidak bisa mengurus e-KTP. Di kawasan xxx*  kecamatan xxx*, kelurahan xxx* (* berarti: penulis tidak ingin membocorkan lokasi sebenarnya di blog), sejumlah warga terpaksa pulang ke rumah setelah mengantre selama satu jam lebih di kantor RW guna mengurus KTP elektronik ini. Menurut petugas, masih ada NIK, atau Nomor Induk Kependudukan milik warga yang belum diaktifkan Dinas Kependudukan, sehingga warga yang NIK-nya belum aktif, tidak bisa mengurus e-KTP untuk sementara. Tim liputan TV-Gua-Sendiri, Gua Sendiri, melaporkan.

Yah, itulah sekelumit ekspresi kejengkelan gua menghadapi petugas negara kita yang (lagi-lagi) tidak becus mengurus warganya.

Semua itu bermula pada kemarin malam. Keluarga gua menerima panggilan dari RW untuk mengurus e-KTP. Maka berbondong-bondonglah kami sekeluarga menyambangi kantor RW pada pukul tujuh malam, dan mengantre bersama tetangga-tetangga yang sudah datang terlebih dahulu.

Dari pukul tujuh malam, kami menunggu sampai pukul delapan malam, dan saat itu belum juga ada tanda-tanda pengurusan e-KTP akan dilakukan. Usut punya usut, ditambah hasil penyelidikan (pengintipan) gua pada pukul setengah delapan malam, para petugas sedang makan. Gua pun kembali menunggu. Namun hingga pukul delapan lewat, proses pengurusan e-KTP masih belum dimulai, sampai-sampai ada seorang tetangga yang bertanya pada Pak RW. Pak RW melongok ke dalam ruangan tempat para petugas makan dan kembali tanpa hasil. Hal ini berlangsung dua kali.

Gua benar-benar heran. Kenapa sih para petugas itu begitu tidak tahu dirinya?? Gua melihat ada dari mereka yang sudah keluar dari ruangan, dan berjalan entah ke mana, kemudian masuk lagi ke ruangan. Jadi, mereka jelas-jelas melihat dengan mata kepalanya sendiri antrian yang sudah memenuhi bagian dalam dan luar kantor. Namun mereka masih bersantai-santai makan seolah tidak ada pekerjaan yang menanti mereka.

Okelah, gua mengerti mereka pun manusia yang butuh makan. Tapi, setidaknya jangan menyuruh warga datang pada jam mereka makan dong. Beritahulah kepada warga untuk datang setelah jam makan malam mereka, tidak susah kan?

Akhirnya setelah sebuah penantian yang panjang, mereka pun memulai proses pengurusan e-KTP。 Namun sayang beribu sayang, ternyata sebagian besar warga yang datang masih tidak bisa mengurus e-KTP dan harus menunggu pemberitahuan selanjutnya.

Numpang tanya, BAPAK BERCANDA YAA??!!

Pihak petugas memberitahu kami, bahwa hanya warga yang KK-nya dibuat sebelum bulan Juli, yang bisa mengurus e-KTP. Namun ternyata, ada beberapa warga, termasuk gua sekeluarga, yang KK-nya dibuat sebelum Juli yang tidak bisa mengurus KTP canggih ini. Alasannya, NIK kami belum diaktifkan oleh Dinas Kependudukan. Yang lebih lucu lagi, dalam satu keluarga, ada anggota yang bisa mengurus e-KTP, dan ada yang tidak. Padahal nama mereka tercantum dalam lembar KK yang sama.

"............................................."
*sibuk menahan emosi agar tidak melemparkan tong sampah ke kepala para petugas*

Satu hal yang gua tidak mengerti. Kalau memang Dinas Kependudukan belum mengaktifkan semua NIK milik warga, mengapa pula harus terburu-buru menyuruh para warga yang malang ini untuk membuat e-KTP? Dan kalau memang pihak RW tahu bahwa tidak semua NIK warga sudah diaktifkan dan orang-orang yang NIK-nya belum aktif, otomatis tidak bisa membuat e-KTP, kenapa juga harus menyebar undangan untuk datang ke kantor RW dan membuat e-KTP?

Sungguh karut-marut pelayanan sosial di negara ini. Dan gua baru tahu, bahwa untuk membuat e-KTP pun, kita harus membayar Rp. 15.000,00. Apakah itu suatu bentuk korupsi kecil-kecilan atau tidak, gua tidak tahu. Semoga saja lain kali apabila kami mendapat panggilan untuk membuat e-KTP, hal semacam ini tidak terulang kembali.


梦想的挑战

好久无法静下心来好好地写一篇文章。最近刚进入新的工作场地的我, 生活每天都在忙碌中度过 现在,我又回到电视台工作也跟以前一样, 当了记者。不过,这家电视台在印尼算是高档电视台了。这里的高档指电视所报道的新闻,无论是事件新闻还是非事件新闻,无论是消息还是通讯报道,都做得很出色,目的是为教育社会,提高民众的知识。

我是在为电视台的中文节目当记者。说实话,在这家电视台的中文节目工作,是我一生中最大的愿望。这是我第一次感觉到梦想成真的滋味。不过,当时我并不知到,为了活在这梦想里,需要付出代价的。

该电视台的中文节目每天播放。而在我以前工作的电视台,中文节目只在周末播放。这意味着这里的工作节奏比我的前单位要快几倍, 工作范围也比较广。 一开始,我很不习惯。如果一般记者只负责撰稿和配音(偶尔而已),中文节目的记者要负责撰稿,配音,陪剪接师剪接,选择适合新闻内容的音乐,还要陪剪接师注入字母。这是因为单位没有一个懂中文的剪接师。在不去跑新闻时,我负责内部工作,就是将节目需要的国外新闻报道的画面注入电脑的新闻系统,然后陪剪接师剪接新闻内容。
 
工作了一个多月,我才真正领悟到,梦想成真偶尔也不见得像我们原本想像得那么美。好比我们努力爬山,梦想着爬到山顶,观赏优美的自然风景。到了山顶,优美的风景自然有,但我们必须通往很窄的路才能看到这美景。也就在这家电视台,我学会驱除老毛病,注意细节,为新闻内容播放质量作出充分准备。这将是我最宝贵的本钱。

我追到梦想,将梦想握在手里,梦想却给了我新的挑战,新的发展机会。除了尽量应对,我别无选择。所以,无论在什么样的情况下, 我总相信,天下无难事,只怕有心人。

Lebaran membawa berkah?

Lebaran baru saja lewat, namun sebagian orang masih menikmati liburan mereka. Bagi seorang pekerja paruh waktu seperti gua, libur atau pun tidak libur sama saja, karena toh setiap hari gua juga bekerja di rumah dengan waktu yang bisa gua tentukan seenaknya.

Pada Lebaran kali ini, gua mendapat sebuah kejutan yang sangat tidak menyenangkan dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Seorang teman tiba-tiba saja memutuskan tali pertemanan karena sebuah hal sepele yang tidak masuk akal.

Jadi begini, menjelang hari H Lebaran, gua menulis pesan di profil BBM (yang sering disebut sebagai status, padahal sebenarnya yang disebut status seharusnya available, busy, dan teman-temannya): merayakan perayaan hari maaf-maaf-an. Karena memang Idul Fitri adalah momen bagi umat Islam untuk saling bermaaf-maaf-an. Tidak berapa lama berselang, gua menggantinya dengan kalimat: 'Met Idul Fitri, karena gua merasa lebih afdol menyebutkan nama hari raya besar ini, karena lebih umum diucapkan. Ternyata di BBM salah satu teman gua, status profil itu belum berubah. Hal ini biasa terjadi di sebagian Blackberry yang lemot. Jadi, di dalam BBMnya, pesan di status gua masih: merayakan perayaan hari maaf-maaf-an. Tidak dinyana, teman gua yang kebetulan Muslim ini marah besar dan menghapus gua dari kontak BBMnya, tanpa membaca penjelasan gua terlebih dahulu.

Dia sempat mengirim pesan pada gua sebelumnya, yang berbunyi: gua ga suka status lo, karena menyinggung gua banget. Ini bukan perayaan, tapi hari raya umat Islam. Kalo ga suka, mending lo diem aja.


Hah???!!!

Gua tentu sangat kaget mendapat pesan seperti itu. Karena bukankah perayaan bermakna hari raya yang dirayakan? Bahkan kata ini berasal dari kata dasar yang sama, yaitu; raya.

Raya + me-an = merayakan
Raya+ pe-an = perayaan

Bukankah ini adalah pelajaran Bahasa Indonesia dasar yang biasa kita dapat sewaktu SD?  Gua sangat ingat ini adalah pelajaran Bahasa Indonesia mengenai Imbuhan, yang terdiri dari awalan dan akhiran. Kata dasar yang diberi imbuhan mempunyai makna yang mirip dengan kata dasarnya. Misalnya merayakan yang bermakna memperingati hari raya. Dan perayaan yang bermakna kegiatan merayakan hari raya. Lantas....apa yang salah dengan gua menyebut Idul Fitri sebagai perayaan? Bukankah hari besar ini memang dirayakan oleh seluruh Muslim di dunia?

Gua sungguh bingung.

Gua pun lantas mengirim pesan balasan pada teman gua itu, berbunyi: hari raya kan dirayakan? emank lo ga merayakan?
Tapi tiba-tiba saja kolom chat antara gua dan dia menghilang, lalu setelah gua cari namanya di kontak BBM gua, nama itu pun sudah raib. Dari situlah gua tahu, dia sudah menghapus nama gua dari kontak BBMnya.

Gua pun lalu bertanya pada dua teman Muslim gua yang lain. Apakah gua salah dengan menyebut kata perayaan? Gua tidak tahu kalau Idul Fitri tidak boleh disebut sebagai perayaan. Namun dua teman Muslim gua justru berkata tidak apa-apa menyebut perayaan Idul Fitri, atau perayaan hari maaf-maaf-an. Bahkan ada satu teman gua yang menjelaskan tentang Fitri, yang berarti suci. Jadi apa masalahnya??

Teman gua yang menjelaskan makna Fitri itu berasumsi teman gua ini marah karena dia beranggapan perayaan adalah sesuatu yang glamor dan wah. Sehingga dia lantas tersinggung karena gua menggunakan kata "perayaan" untuk Idul Fitri. Namun bukankah perayaan tidak selalu identik dengan keglamoran? Perayaan kecil-kecilan di rumah pun sudah merupakan perayaan. Karena pada hakikatnya memang ada sesuatu yang dirayakan, bukankah begitu?

Gua sungguh-sungguh heran dan tidak berniat memikirkannya lagi. Gua menganggap teman yang keberatan dengan kata "perayaan" untuk menyebut Idul Fitri itu tidak masuk akal. Dan sejujurnya gua bersyukur pada Tuhan, karena gua sudah bisa melihat bagaimana karakter orang yang selama ini gua anggap teman itu. Kalau pun gua tetap berteman dengan dia, gua yakin suatu saat kami juga akan berselisih paham dan menjadi musuh. Dia bahkan tidak membaca pesan yang gua kirim, dan langsung menghapus nama gua. Sungguh heran mengapa gua bisa berteman dengannya untuk waktu yang lumayan lama. Bahkan dulu kami pernah bekerja sama ketika gua masih bekerja di kantornya.

Salah satu teman gua menyimpulkan, bahwa mungkin saja sebenarnya teman gua ini sudah lama tidak suka dengan gua. Hanya saja dia menutupinya dengan pura-pura bersikap baik. Tapi gua sama sekali tidak mengerti kenapa juga dia harus tidak menyukai gua. Waktu masih di kantor dulu, kami malah pernah membicarakan buku yang dia baca, membahas liputan bersama-sama. Lalu setelah gua keluar dari perusahaan yang lama, kami pun tidak pernah lagi menjalin komunikasi. Bahkan kami tidak berteman melalui Facebook. Tidak ada komunikasi apapun yang terjalin. Lalu apa yang menyebabkan dia tidak menyukai gua? Sungguh aneh bin ajaib. Gua masih menghormatinya dengan panggilan "mas", meskipun usianya tidak jauh berbeda dari gua.

Inilah salah satu yang membuat gua tidak senang tinggal di Indonesia. Banyak orang-orang yang tidak bisa memakai logikanya dan terlalu mudah dikendalikan oleh kemarahan. Pantas saja orang Indonesia mudah dihasut dan digerakkan untuk melakukan perbuatan anarkis. Karena sebagian besar dari mereka tidak cukup pintar untuk mengontrol emosinya, dan malah membiarkan dirinya dikontrol oleh emosi.

Semoga waktu akan terus menunjukkan pada gua, siapa teman sejati dan siapa yang bukan.

Minal aidin wal faidzin!


A drop of godliness in prison

Being a magazine journalist means a lot of free time. Especially for a bimonthly magazine. It is a kind of privilege though, do not have to wake up early every morning for work, watch TV whenever I want to, read book whenever I want to, and of course, update blog whenever I like to.

With that much of spare time I did not have before, I decided to join some church activity, such as prison visitation. Until this day, I have joined twice of male prison visitation located in Tangerang. The view of these male prison inmates worship God is really touching. I used to watch them from a little window of the building functioned as a church and see them singing and playing music, before went to have a session with the Chinese inmates.   

According to what I have heard, they have to pay 300.000 rupiahs to go to the church. Police (again) taking advantages from these inmates to gain money. In my personal opinion, having religious activity in prison should be the government arrangement and it should be free. Because people do not work in prison, even they are, they do not get paid. 

But still, every time I went there, the building is full of people who came to enjoy their worshiping time with God as well as with their inmates. And there are also some of them who want to have counseling session outside the building. The view that I do not see in my every Sunday church. 

Maybe for us who are not imprisoned, going to church every Sunday seems like an easy routine to do. We do not have to pay for that, we can go if we like, and do not have to go if we are not feeling like going. Most of us do not take worship God in church as a precious moment anymore, for we are doing it every week freely, that we gradually take it for granted. Seeing how these prison inmates longing for God, truly worship Him from the very bottom of their heart, and not taking this activity merely as a normal routine, undoubtedly make me feel ashamed.

In that very moment, I thought maybe people who are imprisoned, will come out to be a better man than any of us can be. They may have broke the rules and did something cruel that none of us will do. But they also get more time to repent and live close to God, more than any of us have. Besides, who said that free people like us are not more guilty that those prison inmates? We may not break the rules, but we kill others with what we said. We try to harm our colleagues because we envy them. Not mention our hobby to make gossip on other people just because we do not like them. 

To err is human. And it is human who always categorized sins as serious sins and not-to-serious sins, forgiveable sins and not-forgiveable sins. But does God not considered all sins serious yet forgiveable? All sins are the same in God's eyes. It is just the matter of time for people to realize it. 

When the visitation over, I have heard that there is 21 churches doing visitation regularly to this prison. Not to mention visitations from other religious foundations. The prison itself has church, mosque and a temple inside. Now tell me, is prison not a best place to worship God instead of any other place in the world?